Najis mukhaffafah
Dalam buku Fikih Islam Nusantara karangan Syekh Nawawi al-Bantani
Najis mukhaffafah adalah najis ringan berupa air kencing bayi laki-laki yang belum berusia dua tahun, serta belum makan sesuatu kecuali air susu ibunya. Najis mukhaffafah dapat disucikan dengan memercikkan air pada tempat atau benda yang terkena najis tersebut
Sumber: Salsabilla, Adelia Zahra, and Tasya Afril Maulida. ""PEMBAGIAN NAJIS DALAM AGAMA ISLAM."" Religion: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 1.6 (2023): 518-525.
dari kitab ridhadul badiah
Mukhaffafah adalah kencing anak lelaki yang belum mencapai usia dua tahun dan belum memakan pokok selain air susu ibu. Dua tahun ini berpedoman tahun Hijriyah dan tidak boleh kurang sama sekali. Tempat yang terkena kencing tersebut menjadi suci hanya dengan diperciki air sekali saja dengan syarat air itu merata meskipun tidak mengalir dan zatnya kencing hilang sebelum air dipercikkan sebagaimana najis lainnya. Juga disyaratkan kencing itu diperas atau kering, sehingga tidak tersisa basah yang bisa lepas. Lain halnya dengan basah yang tidak bisa lepas. Jika anak kecil lelaki sudah makan selain air susu ibu sebagai makanan pokok, misalnya mentega atau usianya telah mencapai dua tahun, maka kencingnya harus dibasuh. Kencing anak tersebut masih tetap mukhaffafah jika dia menelan sesuatu yang diletakkan di langit-langit mulutnya atau untuk mengobati perutnya. Air susu manusia dan makhluk lainnya tidak ada bedanya meskipun najis.
Sumber: Kitab ridyatul badiah dan terjemah